(Artilek) Akulturasi Tradisi Jawa Terhadap Islam

Posted by Tedy Rizkha Heryansyah Kamis, 28 Juni 2012 0 komentar
Sudah menjadi rahasia umum jika tradisi Jawa masih sangat teguh dipegang masyarakatnya hingga saat ini. Walaupun gempuran dari budaya asing semakin gencar setiap harinya, tradisi yang sudah begitu kuat mengakar dalam kehidupan masyarakatnya tentulah tidak berubah sedemikian drastis. Sejak kedatangan Islam pada sekitar abad ke 14 yang diajarkan oleh Walisongo, proses penyebaran dan pengajaran para wali pun tidak mengubah dasar tradisi keyakinan masyarakat Jawa sebelumnya. Sebelum Islam memasuki Pulau Jawa, tradisi masyarakat Jawa masih dipengaruhi ajaran Hindu, Budha, animisme dan dinamisme yang kemudian dalam penyebarannya para wali menggunakan metode dakwah yang disenangi oleh masyarakat Jawa pada saat itu.

Kita ambil contoh saja metode yang digunakan oleh Sunan Kalijaga. Sunan Kalijaga menyebarkan ajaran Islam dengan mengkombinasikan budaya leluhur masyarakat Jawa yakni wayang. Wayang yang pada saat itu merupakan tontonan wajib masyarakat Jawa memang menjadi salah satu senjata ampuh Sunan Kalijaga dalam menyebarkan Islam. Sebelum menonton wayang yang diadakan Sunan Kalijaga, para masyarakat waktu itu diharuskan untuk berwudhu terlebih dahulu dan mengucap dua kalimat syahadat. dengan metode seperti itu, Sunan Kalijaga dengan begitu mudahnya menyebarkan ajaran Islam pada masyarakat Jawa pada waktu itu. Kemudian, sunan-sunan lain yang melihat metode Sunan Kalijaga berhasil membuat masyarakat Jawa menjadi seorang muslim, mereka membuat berbagai metode dalam menyebarkan Islam dengan menggabungkan kebudayaan asli Jawa.

Tradisi yang sekarang masih terjaga keasliannya seperti Grebeg Sekaten, Grebeg Suro, Grebeg Mulud, dan tradisi upacara lainnya merupakan kombinasi kebudayaan dengan ajaran Islam yang disebarkan oleh Walisongo. Kebudayaan seperti itu sudah menjadi sebuah aset pariwisata secara tidak langsung untuk wisatawan pendatang. Namun, kebanyakan masyarakat modern masa kini memandang tradisi seperti itu menimbulkan polemik. Ada yang menganggap Sedekah Bumi atau Sedekah Laut di Pantai Selatan adalah perbuatan syirik atau menyekutukan Tuhan. Hal seperti ini harus diberikan pemahaman lebih lanjut tentang akulturasi kebudayaan. Indonesia adalah negara yang terdiri dari berbagai macam suku, agama, budaya, dan ras. Sudah harus menjadi kewajiban menerima segala perbedaan yang ada di negara ini.

sumber tulisan

0 komentar:

Posting Komentar