(Cerpen) Saat Sembrani Menjadi Saksi
Selasa, 26 Juni 2012
0
komentar
“Asna! Kenapa kok kamu bengong begitu sih?”, tegur Fadil
“Emmm.....gak apa-apa kok”
“Gak mungkin, kamu pasti ada masalah deh, ceritain ya”, bujuk Leni
“Gini lho, aku itu cemas banget, Senin besok udah mulai ujian nasional.......”
“Terus kamu cemas akan kemampuan kamu?”, potong Fadil
Asna hanya mengangguk. Kemudian ia memasukkan semua buku yang belum ia rapikan di atas meja ke dalam tas. Hujan yang turun memang sangat deras. Memaksa mereka bertiga menunggu di sekolah hingga hujan reda.
“Aduuhh hujan deras gini mah lama berehentinya”, keluh Fadil
“Udah jangan gerutu gitu kamu, hujan itu rejeki tau, oh ya aku sebentar lagi dijemput kalian mau ikut gak? Aku antar sampai rumah kalian deh”, tukas Leni.
“Makasih banyak deh Leni, aku gak enak aja sama kamu”.
“Gak enak kenapa Asna? Orang kita temen ini kok”.
“Aku juga gak ah Leni takut ngerepotin kamu nanti”, sahut Fadil
Beberapa menit kemudian mobil yang menjemput Leni datang. “Wah aku udah di jemput, aku pulang duluan ya”, ucap Leni pada Asna dan Fadil lalu bergegas masuk ke dalam mobilnya.
“Hmm Leni sudah pulang, praktis tinggal aku dan kamu Asna”, ucap Fadil sambil memandang langit yang terus meneteskan air hujan. Asna membalasnya hanya dengan anggukan. Hari semakin sore dan hujan pun tak kunjung reda. “Fadil, gimana ini? Hujan gak reda juga, malah udah sore pula”,kata Asna dengan cemas. “Gimana ya? Kalau gini kamu tunggu sebentar disini.”, balas Fadil singkat. “Kamu mau kemana......?”. Belum selesai pertanyaan dari Asna, Fadil bergegas berlari menuju ruang penjaga sekolah. Entah apa yang ada di dalam benak Fadil yang membuat Asna menggelengkan kepala.
Fadil dengan cepat menuju ruang tersebut dan berharap Pak Supri ada. Dan harapan itu benar adanya. “Aduuhh dek Fadil, hujan-hujan gini bukannya pulang malah lari-larian”, ucap Pak Supri. Dengan nafas yang terengah-engah Fadil menjawab, “be...hufh..hufh...gini pak...hufh...hufh...”. Pak Supri yang tak tega melihat Fadil terengah-engah seperti itu mempersilahkan Fadil duduk di ruangnya dan membuatkan segelas teh hangat untuk Fadil.
“Ini teh hangat kamu minum dulu, atur nafasmu baru cerita ke bapak”
“Iya pak terima kasih, begini pak saya buru-buru kesini cuma pengen pinjam payung bapak. Saya dan Asna gak bawa payung pak, terus hujan gini bisa-bisa malem baru reda pak. Kasian si Asna dari tadi sudah di telepon orang tuanya pak”, jelas Fadil.
“Ooo bapak kira ada apa, ternyata kamu pengen pinjem payung. Ya sudah sebentar bapak ambilkan dulu ya, itu tehnya kamu minum dulu”. Sesaat kemudian Pak Supri membawa payung yang ingin dipinjam Fadil. “Ini payungnya, Fadil”, ucap Pak Supri sambil memberi payung tersebut. “Iya pak terima kasih banyak, Insya Allah kalau besok gak hujan saya kembalikan lagi pak”, balas Fadil.
“Sudah..., masalah mengembalikan itu urusan gampang. Bapak masih punya payung satu lagi kok. Jadi kalau mau dikembalikan gak usah besok, nanti-nanti aja. Sekarang yang penting kamu dan Asna pulang, ini udah makin sore nanti kamu di cariin lagi sama orang tuamu”, katanya. “Iya pak sekali lagi terima kasih”, seraya berucap dan bergegas kembali untuk menemui Asna.
“Fadil, kamu dari mana aja sih? Udah gitu pake lari-lari segala lagi. Nanti kalo kamu kepleset gimana?”, ucap Asna yang agak sedikit kesal.
“Ini lho, aku abis minjem payung sama Pak Supri, kalo kita nunggu sampai hujan reda bisa malam kita pulang, lagian apa orang tua gak khawatir apa? Tadi aja udah di teleponin kan?”. Asna terdiam dan tak lama kemudian tangannya ditarik Fadil.
“Ayo, kamu mau pulang kan? Kenapa diem aja?”, tegur Fadil.
Sepanjang jalan, Asna dan Fadil terus berjalan. Hujan deras dan gemeruh petir mengiringi perjalanan mereka. Asna terus mendekatkan badannya ke Fadil dan terus memegang tangan Fadil dengan erat seakan takut dengan sesuatu.
“Kamu takut petir ya Asna?”.
“Iya Fadil aku takut banget, malah hujannya semakin deras lagi. Udah lupa bawa payung lupa bawa jaket pula, huh hari ini apes banget aku”, keluh Asna.
“Udah jangan ngeluh gitu, sebentar ya kamu pegang dulu payung ini. Aku mau lepas jaketku dulu”. Fadil dengan segera melepaskan jaket yang ia pakai dan memakaikannya ke Asna.
“Kita jangan terlalu gembira dulu, ingat kita belum tahu pengumuman kita lulus atau tidak”, ucap Leni. “Ya benar kita jangan lupa terus berdoa”, tambah Asna.
Genap sudah 2 bulan ujian nasional berlalu. Hari ini merupakan hari yang mendebarkan bagi semua siswa pada saat itu. Asna, Fadil, dan Leni terlihat cemas apakah pengumuman yang mereka dengar nanti itu adalah pengumuman yang menyatakan mereka lulus atau tidak. Tak berapa lama kemudian seluruh siswa berkumpul di lapangan mendengarkan pengumuman dari kepala sekolah.
“Fadil Ahmad Husain.......LULUS!!”.
“Alhamdulillah ya Allah aku lulus”, ucap Fadil seraya bersujud menandakan syukur pada Allah.
“Leni Tri Kristanti......LULUS!!”.
“Hah...??Aku lulus...alhamdulillah ya Allah”, Leni meneteskan airmatanya karena hampir tidak percaya bahwa ia lulus.
Asna terlihat cemas, tinggal namanya yang belum disebut kepala sekolah. “Aduh gimana aku ini?”, bilang Asna dengan cemas. “Kamu pasti lulus kok”, sahut Fadil sambil menepuk pundak Asna.
“Wulan Asnawati......LULUS!!”.
“Asna, kamu lulus, denger gak tadi? Kamu lulus”, ucap Leni menyakinkan Asna. Asna terdiam sesaat kemudian meneteskan airmata. Ketiga sahabat itu saling berpelukan dan tak henti-hentinya mengucapkan syukur kepada Allah.
Satu bulan setelah pengumuman kelulusan ketiga sahabat itu berencana untuk melanjutkan studi mereka di Jakarta. Fadil ingin menjadi dokter dan belajar di Universitas Indonesia. Asna juga sama dengan Fadil, ia ingin kuliah di Universitas Indonesia namun ia ingin menjadi seorang akuntan. Hanya Leni yang memilih kuliah di Universitas Negeri Jakarta karena ia ingin menjadi seorang guru Matematika. Mereka bertiga mengikuti ujian saringan masuk tingkat nasional dan mereka diterima di universitas pilihan masing-masing. Ketiga sahabat itu sepakat untuk bersama-sama pergi ke Jakarta.
Setelah menyiapkan segala berkas yang diperlukan untuk pendaftaran, siang harinya Fadil bergegas pergi menuju stasiun Surabaya Pasar Turi untuk membeli karcis kereta api. “Pak, pesan 3 kursi Sembrani untuk hari Sabtu besok pak”, ucap Fadil pada petugas karcis. Sejenak petugas karcis mengetik dan mencetak karcis. “Total semua Rp. 900.000 dek”, ujar petugas. Fadil mengeluarkan uang yang ia bawa di sakunya kemudian menghitung dan menyerahkan uang tersebut pada petugas karcis.
Pada malam hari di rumah Fadil, Leni dan Asna datang ke rumah Fadil untuk mengambil karcis kereta yang sudah dipesan. “Kita naik Sembrani ya?”, tanya Leni. Fadil hanya mengangguk sambil memasukkan beberapa perlengkapan yang akan dibawa esok. “Hmm kereta ini berangkat jam 6 sore berarti besok kita berangkat dari rumah habis adzan Zuhur aja ya”, tukas Asna.
Hari keberangkatan pun tiba setelah mereka berpamitan ke orang tua, mereka berangkat menuju stasiun. “Jam berapa sekarang?”, tanya Asna. Fadil melirik jam tangannya sejenak, “jam 5, tenang keretanya belum datang ini”. Mereka tiba di stasiun 1 jam sebelum kereta berangkat. Selang beberapa waktu kemudian, kereta yang akan di tumpangi mereka tiba dan langsung mereka mencari tempat duduk yang tertera pada karcis. “Ingat ya, gerbong 4 nomor tempat duduk 7AB dan 7C”, ucap Fadil pada kedua sahabatnya itu.
Setelah beberapa saat mereka menemukan tempat duduk mereka di dalam gerbong. “Fadil, kamu duduk sendiri ya aku mau sama Asna”, kata Leni. “Hmmm ya sudah tidak apa-apa”.
Tepat jam 6 berangkatlah kereta Sembrani. Detik menit jam berlalu tak terasa kere
ta sudah melaju selama 4 jam, Fadil melirik jam tangannya dan menunjukkan jarum di angka 10. Dia menoleh ke kursi kedua sahabatnya terlihat Leni sedang tertidur pulas. Sedangkan Asna masih sibuk dengan laptopnya. “Asna, kamu kok gak tidur?”, tanya Fadil.
“Oh belum, aku belum ngantuk kok, kalo kamu ngantuk tidur aja duluan”.
“Nanti aja, aku mau cari makan dulu ke restorasi, kamu mau ikut?”
Asna hanya menggelengkan kepalanya. Fadil kemudian beranjak dari tempat duduknya dan menuju restorasi. Sekali lagi ia melirik Asna yang sedang asyik dengan laptopnya. “Aku sebenarnya punya rasa yang lebih padamu Asna, tapi aku takut jika aku cerita, Leni akan marah dan persahabatan kita akan rusak”, ucap Fadil dalam hati.
Cukup lama Fadil berada di restorasi hingga pukul 12 malam ia belum kembali ke tempat duduknya. Saat ia kembali menuju tempat duduknya, ia sedikit terkejut karena Asna tidur di tempat duduk Fadil. Memang pada saat itu Fadil duduk sendiri karena kebetulan kereta sedang tidak terlalu ramai. “Sebenarnya aku ingin.......ah jangan ia sedang tidur, aku tak mau mengganggu tidurnya, terlihat pulas sekali ia”, gumam Fadil dalam hati. Pelan-pelan Fadil ingin mengambil sesuatu di tas yang ia taruh di atas tempat duduknya tanpa sengaja badannya menyentuh Asna dan seketika Asna terbangun.
“Aduh kamu bangun ya Asna, maaf gak sengaja aku mau nurunin tas ku, maaf ya”, ucap Fadil.
“Oh, ya aku yang salah, tadi aku kira kamu lama di restorasi jadi tempat dudukmu kan kosong jadi aku buat tidur, maaf ya, aku pindah ke tempatku lagi deh”
“Udah gak usah, gak papa kok. Asna sebenarnya aku pengen ngomong sesuatu sama kamu”, ucap Fadil dengan agak kurang yakin. “Kamu mau ngomong apa? Sambil duduk aja ya”. Fadil dengan sedikit berkeringat duduk di sebelah Asna. “Fadil, kamu sakit ya? Kok keringet dingin gitu? Sini aku lap, aku ngantongin tisu kok”. Dengan perlahan Asna mengusap dahi Fadil yang berkeringat. “Kalo kamu sakit kamu tidur ya”, ucap Asna sambil mengelus rambut Fadil.
“Begini Asna, aku mau ngomong terus terang, kalo aku ini punya rasa sayang lebih ke kamu, lebih dari seorang sahabat, sudah sejak lama saat kita pulang berdua di hari yang hujan turun deras itu, timbul rasa sayang ke kamu. Aku pengen ngomong takut persahabatan kita bertiga hancur”. Asna sejenak terdiam dan memandangi Fadil, dan kemudian dia berkata, “aku juga sama, saat kita pulang bareng, aku yang takut waktu itu merasa nyaman di dekat kamu, sebenarnya Leni sudah menyuruh aku untuk jadi pacar kamu”. “Apa benar yang kamu ucap itu?”, tanya Fadil sedikit kurang percaya. Asna hanya mengangguk. “Dan sekarang di atas kereta Sembrani ini, maukah kamu jadi pacar aku, Asna?”, tanya Fadil. Asna dengan tanpa basi-basi lansung menjawab, “ya, aku mau Fadil aku mau jadi pacar kamu”.
Mereka tidak sadar, bahwa Leni sejak dari tadi sudah bangun dan mendengarkan pembicaraan Fadil dan Asna. “Wah kalian sudah jadian nih yeee, cieeee prikitiw”, ledek Leni. “Kamu udah bangun?”, tanya Asna terkejut. “Udah dari tadi kok, udah gak apa-apa kalian itu cocok tau, aku gak akan marah kok dan persahabatan di antara kita gak akan pisah”.
Selama perjalanan kereta Sembrani menuju Jakarta, Asna terlelap di bahu Fadil sambil memegang erat tangan Fadil seakan tak ingin kehilangan. Pagi hari sudah menyambut, namun kereta belum berhenti di stasiun yang mereka tuju, yakni Gambir. Beberapa saat kemudian mereka bertiga menurunkan tas yang mereka letakkan di atas tempat duduk mereka. Tibalah mereka di stasiun Gambir, Leni dan Asna bergegas keluar dari gerbong. Fadil yang belum beranjak keluar berkata dalam hatinya, “terima kasih Sembrani, kau telah menjadi saksi cintaku pada Asna”.
Leni menoleh kebelakang dan melihat Fadil belum beranjak keluar dari gerbong. “Hei Fadil! Ngapain kamu belum turun? Kamu mau pulang lagi ke Surabaya?”, teriak Leni. “Ayo cepat turun”, sambung Asna. Tersadar dari lamunannya dan Fadil berkata sekali lagi, ”terima kasih Sembrani”. Fadil langsung bergegas turun menghampiri sahabat dan kekasihnya itu untuk bersiap menyambut masa depan sebagai mahasiswa baru.
0 komentar:
Posting Komentar